Senin, 27 Oktober 2008

Pahlawan dan Penghianat

Konsep tentang "pahlawan" dan "penghianat" dilekatkan pada "siapa" tergantung pada rezim yang berkuasa. Ini kalimat yang kudapat dari sebuah novel jadul yang ditulis Sidney Sheldon yang judulnya sudah tidak kuingat lagi. Kalimat ini mengesankan dan aku membiarkan diriku sepakat sepenuhnya. Kuasa memang menentukan segalanya, baik, benar, dan buruk seperti menyatu dan bebas ditafsirkan sesuai kepentingan yang dibawa. Semuanya berbaur dan terus melangkahi zaman untuk kemudian di suatu masa akan berubah tergantung siapa lagi yang berkuasa. Dan hari ini kalimat itu kudengar langsung dari mulut seorang budayawan yang sejak di awal kuliah sudah kudengar namanya dan kukenali wajahnya. Tentu sangat menggelikan kalau aku menyimpulkan bahwa dia juga membaca Sidney Sheldon, dan memang aku tidak berpikiran begitu. Dia bercerita tentang Hasanuddin dan Arung Palakka. Dua orang yang bila disebutkan namanya maka yang terbayang adalah dua suku besar di Sulawesi Selatan. Dia berpendapat tentang keduanya yang mungkin saja bukan pahlawan bagi bangsa ini. Keduanya bisa saja adalah penghianat atau hanya salah satu dari keduanya yang menjadi pahlawan dan yang lainnya otomatis menjadi penghianat tergantung konstruksi pikiran sang pemilik kuasa saat ini. Entahlah, aku juga tidak ingin segera memastikan. Aku bukan rakyat yang hidup di zaman mereka walau aku juga tidak pungkiri menjadi bagian dari suku salah satu dari mereka. Sekarang aku tidak ingin turut dalam perdebatan itu, tapi mungkin suatu saat aku juga akan menjadi pembela salah satu dari mereka, siapa tahu ada keberuntungan dari pengakuan itu. he...he..Lagi-lagi kepentingan, tapi aku sepakat dengan budayawan itu untuk tidak menyanjung berbihan sang pahlawan, dan mencerca berlebihan sang penghianat.

Tidak ada komentar: