Ada enam orang berbicara di sebuah warung kopi di jalan Sultan Alaudin hari ini. Mereka berasal dari partai yang berbeda. Ada yang dari Golkar, ada yang dari PDK, dari PPI, PPP, PMB, dan PAN. Semuanya diwadahi oleh sebuah organisasi kepemudaan terkenal tempat keenam orang ini pernah berproses dan disemati predikat sebagai kader terbaik. Mereka bicara tentang komitmen politik pemuda dalam konteks pemberdayaan masyarakat.
Yang dari Golkar mendapat kesempatan pertama untuk berbicara. Dia tidak terlalu tinggi, dengan kumis tipis dan jenggot halus yang bersambungan, dia tampak sangat klimis memakai baju hitam dengan hiasan larik abu-abu, senyum dan tawanya renyah dan terdengar tanpa beban, tanpa kesan takut menarik perhatian berlebihan dari pengunjung yang lain sekaligus menambah tegas kesan bahwa dia sangat berpengaruh di tempat itu. Ternyata dia memang sang pemilik warung kopi. Dia memulai pembicaraan dengan menyebutkan pentingnya taktik kekerabatan dalam mendulang suara di pemilihan umum. kekerabatan itu bisa berarti kekerabatan politik, etnis, sosial, dan juga kekerabatan kepentingan. Bekal paling utama yang paling dibutuhkan oleh para caleg adalah pengetahuan untuk mampu membawa kepentingan rakyat dalam pembahasan di gedung dewan nantinya. penjelasan tentang kelebihan incumbent juga dia bahas untuk mengingatkan statusnya. Dia juga bicara demokrasi walaupun sangat standar dan banyak tema lain yang disinggung sekilas, dijelaskan singkat-singkat dan terdengan sangat klise. Tidak ada yang istimewa dari tawarannya menurutku, walaupun dari segi gaya dia memang sangat elegan.
Pembicara kedua dari PAN, orangnya berkumis tebal, berambut tipis, bertubuh setengah bongsor, dan tampak agak ragu dalam berbicara, jarak kata per kata yang diucapkannya sangat mepet seperti ingin bersaksi bahwa dia setengah menghapal teks yang sudah dia persiapkan. arah pembicaraannya tidak jelas, dia kadang menyinggung soal mahkamah konstitusi yang merubah aturan pemilu setelah itu tercampur lagi kampanye partainya, dan iming-iming manis bila dia terpilih, sosok apa yang layak duduk di parlemen, dan juga peran-peran klise parlemen yang selalu terdengar dimana-mana. tidak ada konsep pemberdayaan masyarakat yang di jelaskannya. mungkin dia memang tidak mengerti caranya, entahlah......
Sosok ketiga tampak meyakinkan. Dia dari PDK, orangnya tinggi dan memakai baju putih yang jernih sejernih tatapan matanya. Ada keyakinan dan semangat yang begitu percaya diri dari bahasa tubuhnya. Dia sangat santai dengan sebatang rokok di sela jari telunjuk dan jari tengahnya. Cara bicaranya mampu membuat perhatian semua orang di tempat itu menjadi miliknya. Dia sangat percaya sosok seperti dirinya akan dipilih oleh masyarakat. tapi dia juga berbicara sangat biasa tentang program yang akan dia bawa. tidak ada yang kongkrit, sepertinya terselip dibalik kata-kata retoris yang dikeluarkannya. tawaran alternatif untuk pemberdayaan masyarakat tidak dia rumuskan dengan jelas. semuanya dangkal datar walaupun terselamatkan dari retorikanya.
Kepalanya botak dan cara bicaranya cadel bila menyebutkan hurup s , dia dari Partai Matahari Bangsa, dialah pembicara selanjutnya. Ada jaket merah marun yang menunjukkan identitas partainya yang ia kenakan. orangnya sangat bersemangat, dan bicaranya juga lumayan lugas. dia bicara tentang hasil survei yang menempatkan partainya sebagai salah satu dari empat partai baru yang akan diperhitungkan dalam pemilu nanti.
Kamis, 12 Februari 2009
Rabu, 04 Februari 2009
Menggagas pemilih cerdas
pemilu 2009 kurang lebih 60 hari lagi. kampanye yang dilakukan oleh para caleg dan partai semakin gencar dilakukan. semuanya berlomba muncul, memajang diri bak selebritis dan berbicara di mana-mana menebar janji manis tentang kehidupan yang lebih baik ketika mereka dipercaya untuk duduk sebagai wakil. Jalanan sekarang tak ubahnya seperti pasar yang menyajikan berbagai dagangan yang menggiurkan, cuma bedanya tidak harus dibeli dengan uang, tapi gratis untuk dipilih. bahkan sebaliknya untuk menarik minat masyarakat luas agar memilih, tidak jarang iming-iming uang di kedepankan, tawaran sembako gratis terus ditawarkan dan tampaknya menjadi prasyarat utama yang harus dilakukan oleh calon ketika hendak dipilih menjadi wakil rakyat. sepertinya kepercayaan diri para calon tidak ada bila tidak melakukan proses tersebut.
Tapi pemilihan kali ini tentu tidak hendak memilih mereka yang hanya bisa menawarkan uang, sembako, wajah ramah, dan citra yang baik. tentu tidak berlebihan bila kita berharap banyak pada pemilu kali ini untuk mampu menghasilkan sosok yang berbeda, sosok yang mampu menjawab keresahan masa reformasi yang masih mencari bentuk pasca tumbangnya orde baru. apalagi pemilihan kali ini juga terasa lebih segar dengan serangkaian terobosan baru dalam sistem politik kita. mekanisme suara terbanyak yang dianggap mampu membawa suara rakyat sudah mulai diberlakukan untuk memilih para wakil tentu harus diapresiasi lebih bijaksana. harapan yang lebih baik digantungkan agar kiranya para orang kepercayaan yang kita pilih bisa menjadi penyambung mimpi-mimpi kita selama ini. tentu pula kita tidak berharap memilih untuk kemudian melahirkan penyesalan di kemudian hari karena salah memilih wakil. waktu lima tahun menjadi masa yang sangat lama bila harus dilalui dengan penyesalan.
Kita berharap pemilu kali ini bisa melahirkan para orang-orang terpilih yang mampu mengemban amanat untuk menagawasi pemerintahan, menyusun undang-undang yang mewadahi aspirasi rakyat, dan penyusunan anggaran yang mengedepankan kesejahteraan bangsa. bukan untuk mewakili kepentingan segelintir orang atau kelompok yang berlindung di balik topeng slogan atas nama rakyat, bukan itu. tapi bila kita lihat proses yang terjadi sekarang, rasanya rasa pesimis lebih besar dibanding optimis. proses politik yang tidak sehat sudah sangat mengakar sudah sangat susah untuk dihentikan. proses kaderisasi di partai politik yang kita harap mampu melahirkan figur-figur ideal yang berkapasitas tidak berjalan bahkan sudah berbalik arah, sangat jarang figur ideal. sebagian besar tergusur oleh figur yang memiliki modal yang lebih banyak serta figur yang memiliki kedekatan emosional dengan para elit partai. partai politik bukan lagi menjadi organisasi modern yang profesional tapi sudah menjadi lingkaran oligarki yang sangat susah untuk dihentikan.
Pendidikan politik di masyarakat yang harusnya dilakukan oleh partai sebagai pintu pertama sudah tidak berjalan. tentu kita juga tidak bisa melirik ke KPU untuk melakukan proses ini. KPU sudah sangat terbebani kerja-kerja mekanis untuk mempersiapkan proses pemilihan mulai dari urusan logistik hingga urusan prosedural yang belum rampung-rampung hingga sekarang yang membuat funsi pendidikan yang seharusnya dilakukan oleh KPU tidak akan berjalan. Apalagi bila kita harus berharap pada pemerintah, tentu hal ini tidak mungkin, bagaimanapun pemerintah pasti hanya akan mempersiapkan modal sosial untuk meningkatkan popularitas agar bisa dipercaya lagi untuk menjabat. Sementara media pastilah tidak bisa melakukan funsinya secara maksimal karena kuasa iklan masih menjadi segalanya.
Sementara para pemilih yang nantinya akan menjadi penentu hasil dari proses politik hingga kini sepertinya masih di dominasi oleh golongan pemilih pragmatis yang menyandarkan pilihannya pada kedekatan emosional, banyaknya nilai materi yang didapat sampai pada pertimbangan etnis. semua ini tentu tidak akan menghasilkan para wakil yang memiliki integritas serta kapabilitas yang sesungguhnya.
Harapan yang tertinggal adalah pada kelompok menengah di masyarakat yang bisa mengambil jarak dari proses politik praktis. kalangan ini bisa diwakili oleh mahasiswa, LSM, atau kelompok masyarakat baik itu tokoh masyarakat atau tokoh agama yang bisa menahan nafsu untuk terlibat langsung dengan kekuasaan. sehingga nantinya kelompok ini bisa menyediakan sebuah alternatif informasi tentang kompetensi para calon, rekomendasi tanpa tendensi serta penyadaran pada masyarakat tentang pentingnya memilih yang terbaik. Walaupun cara ini cukup instan dan tentu tidak akan maksimal tapi minimal hal ini bisa memotong sedikir akar bermasalah untuk selanjutnya menunggu formula lain yang bisa mengikis budaya ini. Pendidikan di usia dini di sekolah dasar tentu menjadi harapan besar yang harus segera dilaksanakan karena penanam nilai di masa kecil pasti akan terus membekas hingga selamanya.
Tapi pemilihan kali ini tentu tidak hendak memilih mereka yang hanya bisa menawarkan uang, sembako, wajah ramah, dan citra yang baik. tentu tidak berlebihan bila kita berharap banyak pada pemilu kali ini untuk mampu menghasilkan sosok yang berbeda, sosok yang mampu menjawab keresahan masa reformasi yang masih mencari bentuk pasca tumbangnya orde baru. apalagi pemilihan kali ini juga terasa lebih segar dengan serangkaian terobosan baru dalam sistem politik kita. mekanisme suara terbanyak yang dianggap mampu membawa suara rakyat sudah mulai diberlakukan untuk memilih para wakil tentu harus diapresiasi lebih bijaksana. harapan yang lebih baik digantungkan agar kiranya para orang kepercayaan yang kita pilih bisa menjadi penyambung mimpi-mimpi kita selama ini. tentu pula kita tidak berharap memilih untuk kemudian melahirkan penyesalan di kemudian hari karena salah memilih wakil. waktu lima tahun menjadi masa yang sangat lama bila harus dilalui dengan penyesalan.
Kita berharap pemilu kali ini bisa melahirkan para orang-orang terpilih yang mampu mengemban amanat untuk menagawasi pemerintahan, menyusun undang-undang yang mewadahi aspirasi rakyat, dan penyusunan anggaran yang mengedepankan kesejahteraan bangsa. bukan untuk mewakili kepentingan segelintir orang atau kelompok yang berlindung di balik topeng slogan atas nama rakyat, bukan itu. tapi bila kita lihat proses yang terjadi sekarang, rasanya rasa pesimis lebih besar dibanding optimis. proses politik yang tidak sehat sudah sangat mengakar sudah sangat susah untuk dihentikan. proses kaderisasi di partai politik yang kita harap mampu melahirkan figur-figur ideal yang berkapasitas tidak berjalan bahkan sudah berbalik arah, sangat jarang figur ideal. sebagian besar tergusur oleh figur yang memiliki modal yang lebih banyak serta figur yang memiliki kedekatan emosional dengan para elit partai. partai politik bukan lagi menjadi organisasi modern yang profesional tapi sudah menjadi lingkaran oligarki yang sangat susah untuk dihentikan.
Pendidikan politik di masyarakat yang harusnya dilakukan oleh partai sebagai pintu pertama sudah tidak berjalan. tentu kita juga tidak bisa melirik ke KPU untuk melakukan proses ini. KPU sudah sangat terbebani kerja-kerja mekanis untuk mempersiapkan proses pemilihan mulai dari urusan logistik hingga urusan prosedural yang belum rampung-rampung hingga sekarang yang membuat funsi pendidikan yang seharusnya dilakukan oleh KPU tidak akan berjalan. Apalagi bila kita harus berharap pada pemerintah, tentu hal ini tidak mungkin, bagaimanapun pemerintah pasti hanya akan mempersiapkan modal sosial untuk meningkatkan popularitas agar bisa dipercaya lagi untuk menjabat. Sementara media pastilah tidak bisa melakukan funsinya secara maksimal karena kuasa iklan masih menjadi segalanya.
Sementara para pemilih yang nantinya akan menjadi penentu hasil dari proses politik hingga kini sepertinya masih di dominasi oleh golongan pemilih pragmatis yang menyandarkan pilihannya pada kedekatan emosional, banyaknya nilai materi yang didapat sampai pada pertimbangan etnis. semua ini tentu tidak akan menghasilkan para wakil yang memiliki integritas serta kapabilitas yang sesungguhnya.
Harapan yang tertinggal adalah pada kelompok menengah di masyarakat yang bisa mengambil jarak dari proses politik praktis. kalangan ini bisa diwakili oleh mahasiswa, LSM, atau kelompok masyarakat baik itu tokoh masyarakat atau tokoh agama yang bisa menahan nafsu untuk terlibat langsung dengan kekuasaan. sehingga nantinya kelompok ini bisa menyediakan sebuah alternatif informasi tentang kompetensi para calon, rekomendasi tanpa tendensi serta penyadaran pada masyarakat tentang pentingnya memilih yang terbaik. Walaupun cara ini cukup instan dan tentu tidak akan maksimal tapi minimal hal ini bisa memotong sedikir akar bermasalah untuk selanjutnya menunggu formula lain yang bisa mengikis budaya ini. Pendidikan di usia dini di sekolah dasar tentu menjadi harapan besar yang harus segera dilaksanakan karena penanam nilai di masa kecil pasti akan terus membekas hingga selamanya.
Langganan:
Postingan (Atom)