Ada enam orang berbicara di sebuah warung kopi di jalan Sultan Alaudin hari ini. Mereka berasal dari partai yang berbeda. Ada yang dari Golkar, ada yang dari PDK, dari PPI, PPP, PMB, dan PAN. Semuanya diwadahi oleh sebuah organisasi kepemudaan terkenal tempat keenam orang ini pernah berproses dan disemati predikat sebagai kader terbaik. Mereka bicara tentang komitmen politik pemuda dalam konteks pemberdayaan masyarakat.
Yang dari Golkar mendapat kesempatan pertama untuk berbicara. Dia tidak terlalu tinggi, dengan kumis tipis dan jenggot halus yang bersambungan, dia tampak sangat klimis memakai baju hitam dengan hiasan larik abu-abu, senyum dan tawanya renyah dan terdengar tanpa beban, tanpa kesan takut menarik perhatian berlebihan dari pengunjung yang lain sekaligus menambah tegas kesan bahwa dia sangat berpengaruh di tempat itu. Ternyata dia memang sang pemilik warung kopi. Dia memulai pembicaraan dengan menyebutkan pentingnya taktik kekerabatan dalam mendulang suara di pemilihan umum. kekerabatan itu bisa berarti kekerabatan politik, etnis, sosial, dan juga kekerabatan kepentingan. Bekal paling utama yang paling dibutuhkan oleh para caleg adalah pengetahuan untuk mampu membawa kepentingan rakyat dalam pembahasan di gedung dewan nantinya. penjelasan tentang kelebihan incumbent juga dia bahas untuk mengingatkan statusnya. Dia juga bicara demokrasi walaupun sangat standar dan banyak tema lain yang disinggung sekilas, dijelaskan singkat-singkat dan terdengan sangat klise. Tidak ada yang istimewa dari tawarannya menurutku, walaupun dari segi gaya dia memang sangat elegan.
Pembicara kedua dari PAN, orangnya berkumis tebal, berambut tipis, bertubuh setengah bongsor, dan tampak agak ragu dalam berbicara, jarak kata per kata yang diucapkannya sangat mepet seperti ingin bersaksi bahwa dia setengah menghapal teks yang sudah dia persiapkan. arah pembicaraannya tidak jelas, dia kadang menyinggung soal mahkamah konstitusi yang merubah aturan pemilu setelah itu tercampur lagi kampanye partainya, dan iming-iming manis bila dia terpilih, sosok apa yang layak duduk di parlemen, dan juga peran-peran klise parlemen yang selalu terdengar dimana-mana. tidak ada konsep pemberdayaan masyarakat yang di jelaskannya. mungkin dia memang tidak mengerti caranya, entahlah......
Sosok ketiga tampak meyakinkan. Dia dari PDK, orangnya tinggi dan memakai baju putih yang jernih sejernih tatapan matanya. Ada keyakinan dan semangat yang begitu percaya diri dari bahasa tubuhnya. Dia sangat santai dengan sebatang rokok di sela jari telunjuk dan jari tengahnya. Cara bicaranya mampu membuat perhatian semua orang di tempat itu menjadi miliknya. Dia sangat percaya sosok seperti dirinya akan dipilih oleh masyarakat. tapi dia juga berbicara sangat biasa tentang program yang akan dia bawa. tidak ada yang kongkrit, sepertinya terselip dibalik kata-kata retoris yang dikeluarkannya. tawaran alternatif untuk pemberdayaan masyarakat tidak dia rumuskan dengan jelas. semuanya dangkal datar walaupun terselamatkan dari retorikanya.
Kepalanya botak dan cara bicaranya cadel bila menyebutkan hurup s , dia dari Partai Matahari Bangsa, dialah pembicara selanjutnya. Ada jaket merah marun yang menunjukkan identitas partainya yang ia kenakan. orangnya sangat bersemangat, dan bicaranya juga lumayan lugas. dia bicara tentang hasil survei yang menempatkan partainya sebagai salah satu dari empat partai baru yang akan diperhitungkan dalam pemilu nanti.
Kamis, 12 Februari 2009
Rabu, 04 Februari 2009
Menggagas pemilih cerdas
pemilu 2009 kurang lebih 60 hari lagi. kampanye yang dilakukan oleh para caleg dan partai semakin gencar dilakukan. semuanya berlomba muncul, memajang diri bak selebritis dan berbicara di mana-mana menebar janji manis tentang kehidupan yang lebih baik ketika mereka dipercaya untuk duduk sebagai wakil. Jalanan sekarang tak ubahnya seperti pasar yang menyajikan berbagai dagangan yang menggiurkan, cuma bedanya tidak harus dibeli dengan uang, tapi gratis untuk dipilih. bahkan sebaliknya untuk menarik minat masyarakat luas agar memilih, tidak jarang iming-iming uang di kedepankan, tawaran sembako gratis terus ditawarkan dan tampaknya menjadi prasyarat utama yang harus dilakukan oleh calon ketika hendak dipilih menjadi wakil rakyat. sepertinya kepercayaan diri para calon tidak ada bila tidak melakukan proses tersebut.
Tapi pemilihan kali ini tentu tidak hendak memilih mereka yang hanya bisa menawarkan uang, sembako, wajah ramah, dan citra yang baik. tentu tidak berlebihan bila kita berharap banyak pada pemilu kali ini untuk mampu menghasilkan sosok yang berbeda, sosok yang mampu menjawab keresahan masa reformasi yang masih mencari bentuk pasca tumbangnya orde baru. apalagi pemilihan kali ini juga terasa lebih segar dengan serangkaian terobosan baru dalam sistem politik kita. mekanisme suara terbanyak yang dianggap mampu membawa suara rakyat sudah mulai diberlakukan untuk memilih para wakil tentu harus diapresiasi lebih bijaksana. harapan yang lebih baik digantungkan agar kiranya para orang kepercayaan yang kita pilih bisa menjadi penyambung mimpi-mimpi kita selama ini. tentu pula kita tidak berharap memilih untuk kemudian melahirkan penyesalan di kemudian hari karena salah memilih wakil. waktu lima tahun menjadi masa yang sangat lama bila harus dilalui dengan penyesalan.
Kita berharap pemilu kali ini bisa melahirkan para orang-orang terpilih yang mampu mengemban amanat untuk menagawasi pemerintahan, menyusun undang-undang yang mewadahi aspirasi rakyat, dan penyusunan anggaran yang mengedepankan kesejahteraan bangsa. bukan untuk mewakili kepentingan segelintir orang atau kelompok yang berlindung di balik topeng slogan atas nama rakyat, bukan itu. tapi bila kita lihat proses yang terjadi sekarang, rasanya rasa pesimis lebih besar dibanding optimis. proses politik yang tidak sehat sudah sangat mengakar sudah sangat susah untuk dihentikan. proses kaderisasi di partai politik yang kita harap mampu melahirkan figur-figur ideal yang berkapasitas tidak berjalan bahkan sudah berbalik arah, sangat jarang figur ideal. sebagian besar tergusur oleh figur yang memiliki modal yang lebih banyak serta figur yang memiliki kedekatan emosional dengan para elit partai. partai politik bukan lagi menjadi organisasi modern yang profesional tapi sudah menjadi lingkaran oligarki yang sangat susah untuk dihentikan.
Pendidikan politik di masyarakat yang harusnya dilakukan oleh partai sebagai pintu pertama sudah tidak berjalan. tentu kita juga tidak bisa melirik ke KPU untuk melakukan proses ini. KPU sudah sangat terbebani kerja-kerja mekanis untuk mempersiapkan proses pemilihan mulai dari urusan logistik hingga urusan prosedural yang belum rampung-rampung hingga sekarang yang membuat funsi pendidikan yang seharusnya dilakukan oleh KPU tidak akan berjalan. Apalagi bila kita harus berharap pada pemerintah, tentu hal ini tidak mungkin, bagaimanapun pemerintah pasti hanya akan mempersiapkan modal sosial untuk meningkatkan popularitas agar bisa dipercaya lagi untuk menjabat. Sementara media pastilah tidak bisa melakukan funsinya secara maksimal karena kuasa iklan masih menjadi segalanya.
Sementara para pemilih yang nantinya akan menjadi penentu hasil dari proses politik hingga kini sepertinya masih di dominasi oleh golongan pemilih pragmatis yang menyandarkan pilihannya pada kedekatan emosional, banyaknya nilai materi yang didapat sampai pada pertimbangan etnis. semua ini tentu tidak akan menghasilkan para wakil yang memiliki integritas serta kapabilitas yang sesungguhnya.
Harapan yang tertinggal adalah pada kelompok menengah di masyarakat yang bisa mengambil jarak dari proses politik praktis. kalangan ini bisa diwakili oleh mahasiswa, LSM, atau kelompok masyarakat baik itu tokoh masyarakat atau tokoh agama yang bisa menahan nafsu untuk terlibat langsung dengan kekuasaan. sehingga nantinya kelompok ini bisa menyediakan sebuah alternatif informasi tentang kompetensi para calon, rekomendasi tanpa tendensi serta penyadaran pada masyarakat tentang pentingnya memilih yang terbaik. Walaupun cara ini cukup instan dan tentu tidak akan maksimal tapi minimal hal ini bisa memotong sedikir akar bermasalah untuk selanjutnya menunggu formula lain yang bisa mengikis budaya ini. Pendidikan di usia dini di sekolah dasar tentu menjadi harapan besar yang harus segera dilaksanakan karena penanam nilai di masa kecil pasti akan terus membekas hingga selamanya.
Tapi pemilihan kali ini tentu tidak hendak memilih mereka yang hanya bisa menawarkan uang, sembako, wajah ramah, dan citra yang baik. tentu tidak berlebihan bila kita berharap banyak pada pemilu kali ini untuk mampu menghasilkan sosok yang berbeda, sosok yang mampu menjawab keresahan masa reformasi yang masih mencari bentuk pasca tumbangnya orde baru. apalagi pemilihan kali ini juga terasa lebih segar dengan serangkaian terobosan baru dalam sistem politik kita. mekanisme suara terbanyak yang dianggap mampu membawa suara rakyat sudah mulai diberlakukan untuk memilih para wakil tentu harus diapresiasi lebih bijaksana. harapan yang lebih baik digantungkan agar kiranya para orang kepercayaan yang kita pilih bisa menjadi penyambung mimpi-mimpi kita selama ini. tentu pula kita tidak berharap memilih untuk kemudian melahirkan penyesalan di kemudian hari karena salah memilih wakil. waktu lima tahun menjadi masa yang sangat lama bila harus dilalui dengan penyesalan.
Kita berharap pemilu kali ini bisa melahirkan para orang-orang terpilih yang mampu mengemban amanat untuk menagawasi pemerintahan, menyusun undang-undang yang mewadahi aspirasi rakyat, dan penyusunan anggaran yang mengedepankan kesejahteraan bangsa. bukan untuk mewakili kepentingan segelintir orang atau kelompok yang berlindung di balik topeng slogan atas nama rakyat, bukan itu. tapi bila kita lihat proses yang terjadi sekarang, rasanya rasa pesimis lebih besar dibanding optimis. proses politik yang tidak sehat sudah sangat mengakar sudah sangat susah untuk dihentikan. proses kaderisasi di partai politik yang kita harap mampu melahirkan figur-figur ideal yang berkapasitas tidak berjalan bahkan sudah berbalik arah, sangat jarang figur ideal. sebagian besar tergusur oleh figur yang memiliki modal yang lebih banyak serta figur yang memiliki kedekatan emosional dengan para elit partai. partai politik bukan lagi menjadi organisasi modern yang profesional tapi sudah menjadi lingkaran oligarki yang sangat susah untuk dihentikan.
Pendidikan politik di masyarakat yang harusnya dilakukan oleh partai sebagai pintu pertama sudah tidak berjalan. tentu kita juga tidak bisa melirik ke KPU untuk melakukan proses ini. KPU sudah sangat terbebani kerja-kerja mekanis untuk mempersiapkan proses pemilihan mulai dari urusan logistik hingga urusan prosedural yang belum rampung-rampung hingga sekarang yang membuat funsi pendidikan yang seharusnya dilakukan oleh KPU tidak akan berjalan. Apalagi bila kita harus berharap pada pemerintah, tentu hal ini tidak mungkin, bagaimanapun pemerintah pasti hanya akan mempersiapkan modal sosial untuk meningkatkan popularitas agar bisa dipercaya lagi untuk menjabat. Sementara media pastilah tidak bisa melakukan funsinya secara maksimal karena kuasa iklan masih menjadi segalanya.
Sementara para pemilih yang nantinya akan menjadi penentu hasil dari proses politik hingga kini sepertinya masih di dominasi oleh golongan pemilih pragmatis yang menyandarkan pilihannya pada kedekatan emosional, banyaknya nilai materi yang didapat sampai pada pertimbangan etnis. semua ini tentu tidak akan menghasilkan para wakil yang memiliki integritas serta kapabilitas yang sesungguhnya.
Harapan yang tertinggal adalah pada kelompok menengah di masyarakat yang bisa mengambil jarak dari proses politik praktis. kalangan ini bisa diwakili oleh mahasiswa, LSM, atau kelompok masyarakat baik itu tokoh masyarakat atau tokoh agama yang bisa menahan nafsu untuk terlibat langsung dengan kekuasaan. sehingga nantinya kelompok ini bisa menyediakan sebuah alternatif informasi tentang kompetensi para calon, rekomendasi tanpa tendensi serta penyadaran pada masyarakat tentang pentingnya memilih yang terbaik. Walaupun cara ini cukup instan dan tentu tidak akan maksimal tapi minimal hal ini bisa memotong sedikir akar bermasalah untuk selanjutnya menunggu formula lain yang bisa mengikis budaya ini. Pendidikan di usia dini di sekolah dasar tentu menjadi harapan besar yang harus segera dilaksanakan karena penanam nilai di masa kecil pasti akan terus membekas hingga selamanya.
Rabu, 26 November 2008
Ma' Hane
Namanya Ma'Hane. Perawakannya kecil dan gurat-gurat ketuaa sudah muncul pada tubuhnya di sana-sini. urat-urat di kedua tangannya sudah tak kuasa lagi untuk tidak menampakkan diri. giginya sudah mulai menguning termakan usia dan kelihatan sangat rapuh. Badannya tidak lagi tegap kala berdiri menceritakan usia yang sudah begitu banyak dilaluiya. Tapi, semangatnya masih sangat muda terpancardi sepasang matanya yang bersinar cerah.
Dia sedang mengumpulkan pasir di selokan samping teras mesjid saat aku dan Ima menghampirinya. Pasir yangbercampur tanah itu dia kumpulkan untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam karung menggunakan sekop dan disapu dengan kedua tangannya. "Assalamu alaikum, Bu", sapaku padanya saat jarak kami sudah sangat dekat. Dia hanya menengadah sejenak melihat kami tanpa mengucapkan sepatah kata pun lalu mlanjutkan kembali pekerjaannya. Kali ini dia menggunakan kedua tangannya untuk mengumpulkan pasir-pasir itu. Aku dan Ima hanya bisa saling memandang. "Assalamu alaikum, aga tajama Bu?" Tanyaku lagi, kali ini lebih dekat dengan bahasa bugis dan juga bahasa tubuh yang seakan ingin menjabat tangannya. Tapi sejurus kemudian, tindakan spontanku justru jongkok di sampingnya. "Kegako pole?" Tiba-tiba dia bertanya. " Mak-kkn nga kunyyede Bu", " Duampulengga rencanana". "O,....." Dia menjawab seakan mengerti. "Lokkano pale paccingi mesiji e!" marota ladde". "O iye Bu" jawabku. Aku dan Ima saling menatap dan segera merespon kata-katanya dengan bergegas memasuki mesjid itu.
Mesjid itu cukup besar, dan dari berita yang beredar di masyarakat, mesjid itu adalah pusat kegiatan para pengikur aliran Khalwatiyah.
Bersambung..........
Dia sedang mengumpulkan pasir di selokan samping teras mesjid saat aku dan Ima menghampirinya. Pasir yangbercampur tanah itu dia kumpulkan untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam karung menggunakan sekop dan disapu dengan kedua tangannya. "Assalamu alaikum, Bu", sapaku padanya saat jarak kami sudah sangat dekat. Dia hanya menengadah sejenak melihat kami tanpa mengucapkan sepatah kata pun lalu mlanjutkan kembali pekerjaannya. Kali ini dia menggunakan kedua tangannya untuk mengumpulkan pasir-pasir itu. Aku dan Ima hanya bisa saling memandang. "Assalamu alaikum, aga tajama Bu?" Tanyaku lagi, kali ini lebih dekat dengan bahasa bugis dan juga bahasa tubuh yang seakan ingin menjabat tangannya. Tapi sejurus kemudian, tindakan spontanku justru jongkok di sampingnya. "Kegako pole?" Tiba-tiba dia bertanya. " Mak-kkn nga kunyyede Bu", " Duampulengga rencanana". "O,....." Dia menjawab seakan mengerti. "Lokkano pale paccingi mesiji e!" marota ladde". "O iye Bu" jawabku. Aku dan Ima saling menatap dan segera merespon kata-katanya dengan bergegas memasuki mesjid itu.
Mesjid itu cukup besar, dan dari berita yang beredar di masyarakat, mesjid itu adalah pusat kegiatan para pengikur aliran Khalwatiyah.
Bersambung..........
Pate'ne dan Khalwatiyah
Aku KKN di Kecamatan Marusu, Desa Temmappadua Kabupaten Maros, tapi daerah ini lebih dikenal dengan nama Pate'ne. Daerah ini sangat mudah dijangkau, hanya sekitar 2 kilometer dari jalan tol seksi 4. Perjalanan menuju Pate'ne bisa ditempuh dengan ojek atau angkutan umum yang lebih dikenal dengan pete-pete. Bila naik ojek, harus merogoh kocek lima ribu rupiah, tapi bila naik pete-pete bisa lebih murah lagi sekitar tiga ribu rupiah saja.
Menyebut nama Pate'ne di luar, selalu diasosiasikan dengan khalwatiyah. nama sebuah aliran yang konon dianut oleh hampir semua masyarakat di desa ini dan juga masyarakat lain yang tersebar di wilayah luar Makassar. Mereka, para pengikut aliran ini, terbiasa berkumpul setiap tahun khususnya bulan maulid untuk merayakan hari besar dan bersilaturahmi di Pate'ne guna menyiarahi makam seorang tokoh khalwatiyah yang dianggap sebagai pelopor dan pembawa ajaran ini.
Menyebut nama Pate'ne di luar, selalu diasosiasikan dengan khalwatiyah. nama sebuah aliran yang konon dianut oleh hampir semua masyarakat di desa ini dan juga masyarakat lain yang tersebar di wilayah luar Makassar. Mereka, para pengikut aliran ini, terbiasa berkumpul setiap tahun khususnya bulan maulid untuk merayakan hari besar dan bersilaturahmi di Pate'ne guna menyiarahi makam seorang tokoh khalwatiyah yang dianggap sebagai pelopor dan pembawa ajaran ini.
Sabtu, 22 November 2008
Rompi Merah
Saat ini datang juga. Saat yang sudah lama kunantikan,dan ingin segera kujalani. Menjalani KKN bagiku ibarat melewati sebuah pagar tinggi menuju sebuah tempat yang menjanjikan banyak harapan. Hem,....mungkin yang kumaksud adalah sarjana. Bila gelar sudah di tangan, akan banyak hal yang bisa kulakukan, kucoba dan kupelajari. tentu semuanya hadir beriringan bersama tantangan baru untuk bersosialisasi, beraplikasi, dan berpenghasilan lebih. masa seperti itu sangat menyenangkan bila dibayangkan.
Sekarang aku betul-betul sudah memakai rompi merah Unhas yang begitu indah kulihat dulu ,kala masih SMA, melekat pada tubuh para mahasiswa yang KKN di kampungku.
Sekarang aku betul-betul sudah memakai rompi merah Unhas yang begitu indah kulihat dulu ,kala masih SMA, melekat pada tubuh para mahasiswa yang KKN di kampungku.
Senin, 10 November 2008
cerita di pangkep
Kemarin ke pangkep, sebuah daerah yang terkenal dengan makanan khasnya yaitu ikan bakar dan sup saudara, memenuhi undangan sebuah organisasi kepemudaan di sana. Aku datang bersama empat orang teman lainnya dari makassar sebagai pembahas soal try out di acara yang diadakan di kantor bupati. hujan yang ragu-ragu menyertai perjalanan kami dari makassar ke sana. kadang-kadang deras kadang gerimis saja dan bahkan sesekali matahari berani menunjukkan diri. perjalanan kali ini terasa melelahkan bagiku walaupun jarak Makassar-Pangkep hanya ditempuh sekitar 95 menit. Mungkin ini pengaruh masuk angin, begitu pikirku,. Aku lemah, gelisah, merasa tak nyaman,kelelahan dan berujung tragis. Itu terjadi saat kami hampir memasuki Kota Maros. Aku mabuk perjalan dan memuntahkan semua isi perut pagi itu. Tentu ini bersejarah karena baru kali ini aku mengalami mabuk perjalanan. Tapi setelah kejadian bersejarah itu aku justru merasa lebih baikan dan segar.
Pukul sepuluh lewat 15 menit kami sampai di kantor yang punya halaman sangat luas itu. Tamannya sangat terawat dan cukup hijau, sangat kontras dengan pemandangan di kantor tetangga yang gersang dan tidak terawat. tidak ada aktivitas perkantoran yang tampak begitu pula dengan para pegawai kantor karena maklum kemarin itu hari minggu. Hanya ada dua orang petugas keamanan yang berjaga di lobi kantor. Tapi kantor itu terlihat sangat hidup karena ada begitu banyak orang yang berkeliaran di sana-sini, khususnya di lantai dua.
rata-rata mereka itu remaja, tampaknya siswa SMA yang ikut kegiatan try out. Kantor itu sangat besar dan luas tapi sangat tidak terawat. Aku tidak habis pikir bagaimana bisa kantor yang menjadi kebanggaan seluruh orang pangkep ini tidak memiliki kamar kecil yang memadai, kondisi WC sangat memprihatinkan bila harus menghaluskan kata menjijikkan. Itu belum termasuk lantai dan langit-langit yang mengingatkan konsep sebuah rumah tanpa penghuni, atau dihuni oleh orang malas. Ah.... aku betul-betul tidak habis pikir sampai acara try outnya berlangsung dan mataku kembali tertumbuk pada gorden kantor yang sepertinya sudah bertahun-tahun tidak diganti. Tapi satu hal yang membanggakan karena ternyata para siswa di sana sangat antusias dengan acara ini.
Pukul sepuluh lewat 15 menit kami sampai di kantor yang punya halaman sangat luas itu. Tamannya sangat terawat dan cukup hijau, sangat kontras dengan pemandangan di kantor tetangga yang gersang dan tidak terawat. tidak ada aktivitas perkantoran yang tampak begitu pula dengan para pegawai kantor karena maklum kemarin itu hari minggu. Hanya ada dua orang petugas keamanan yang berjaga di lobi kantor. Tapi kantor itu terlihat sangat hidup karena ada begitu banyak orang yang berkeliaran di sana-sini, khususnya di lantai dua.
rata-rata mereka itu remaja, tampaknya siswa SMA yang ikut kegiatan try out. Kantor itu sangat besar dan luas tapi sangat tidak terawat. Aku tidak habis pikir bagaimana bisa kantor yang menjadi kebanggaan seluruh orang pangkep ini tidak memiliki kamar kecil yang memadai, kondisi WC sangat memprihatinkan bila harus menghaluskan kata menjijikkan. Itu belum termasuk lantai dan langit-langit yang mengingatkan konsep sebuah rumah tanpa penghuni, atau dihuni oleh orang malas. Ah.... aku betul-betul tidak habis pikir sampai acara try outnya berlangsung dan mataku kembali tertumbuk pada gorden kantor yang sepertinya sudah bertahun-tahun tidak diganti. Tapi satu hal yang membanggakan karena ternyata para siswa di sana sangat antusias dengan acara ini.
Senin, 03 November 2008
Pertemuan
Semua orang yang kita temui, entah itu di jalan, di kampus, di organisasi atau mungkin di tempat kerja, selalu hadir bersama ceritanya masing-masing yang tanpa pernah disangka bisa saja terkait erat dengan diri kita. Ada yang bilang bahwa kesan pertama selalu menentukan keberlanjutan kisah yang akan kita jalani, memastikan apakah jalinan yang terajut itu akan berlangsung erat atau justru tidak bisa direkatkan sama sekali. Tapi aku tidak pernah sepakat dengan itu, setidaknya untuk saat ini. Pertemuan pertama selalu terjadi dengan kesemuan dan kepura-puraan. Selalu ada hal yang ingin ditonjolkan dan selalu ada hal juga yang mesti ditutupi. Yang menentukan kemudian bagiku justru kuasa waktu. Hitungan menit dan detik yang mengiringi suatu cerita yang sebenarnya. Bisa tentang kebaikan, ketulusan, keceriaan, kebohongan, atau kelicikan, dan ke...ke yang lain.
Langganan:
Postingan (Atom)