Namanya Ma'Hane. Perawakannya kecil dan gurat-gurat ketuaa sudah muncul pada tubuhnya di sana-sini. urat-urat di kedua tangannya sudah tak kuasa lagi untuk tidak menampakkan diri. giginya sudah mulai menguning termakan usia dan kelihatan sangat rapuh. Badannya tidak lagi tegap kala berdiri menceritakan usia yang sudah begitu banyak dilaluiya. Tapi, semangatnya masih sangat muda terpancardi sepasang matanya yang bersinar cerah.
Dia sedang mengumpulkan pasir di selokan samping teras mesjid saat aku dan Ima menghampirinya. Pasir yangbercampur tanah itu dia kumpulkan untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam karung menggunakan sekop dan disapu dengan kedua tangannya. "Assalamu alaikum, Bu", sapaku padanya saat jarak kami sudah sangat dekat. Dia hanya menengadah sejenak melihat kami tanpa mengucapkan sepatah kata pun lalu mlanjutkan kembali pekerjaannya. Kali ini dia menggunakan kedua tangannya untuk mengumpulkan pasir-pasir itu. Aku dan Ima hanya bisa saling memandang. "Assalamu alaikum, aga tajama Bu?" Tanyaku lagi, kali ini lebih dekat dengan bahasa bugis dan juga bahasa tubuh yang seakan ingin menjabat tangannya. Tapi sejurus kemudian, tindakan spontanku justru jongkok di sampingnya. "Kegako pole?" Tiba-tiba dia bertanya. " Mak-kkn nga kunyyede Bu", " Duampulengga rencanana". "O,....." Dia menjawab seakan mengerti. "Lokkano pale paccingi mesiji e!" marota ladde". "O iye Bu" jawabku. Aku dan Ima saling menatap dan segera merespon kata-katanya dengan bergegas memasuki mesjid itu.
Mesjid itu cukup besar, dan dari berita yang beredar di masyarakat, mesjid itu adalah pusat kegiatan para pengikur aliran Khalwatiyah.
Bersambung..........
Dia sedang mengumpulkan pasir di selokan samping teras mesjid saat aku dan Ima menghampirinya. Pasir yangbercampur tanah itu dia kumpulkan untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam karung menggunakan sekop dan disapu dengan kedua tangannya. "Assalamu alaikum, Bu", sapaku padanya saat jarak kami sudah sangat dekat. Dia hanya menengadah sejenak melihat kami tanpa mengucapkan sepatah kata pun lalu mlanjutkan kembali pekerjaannya. Kali ini dia menggunakan kedua tangannya untuk mengumpulkan pasir-pasir itu. Aku dan Ima hanya bisa saling memandang. "Assalamu alaikum, aga tajama Bu?" Tanyaku lagi, kali ini lebih dekat dengan bahasa bugis dan juga bahasa tubuh yang seakan ingin menjabat tangannya. Tapi sejurus kemudian, tindakan spontanku justru jongkok di sampingnya. "Kegako pole?" Tiba-tiba dia bertanya. " Mak-kkn nga kunyyede Bu", " Duampulengga rencanana". "O,....." Dia menjawab seakan mengerti. "Lokkano pale paccingi mesiji e!" marota ladde". "O iye Bu" jawabku. Aku dan Ima saling menatap dan segera merespon kata-katanya dengan bergegas memasuki mesjid itu.
Mesjid itu cukup besar, dan dari berita yang beredar di masyarakat, mesjid itu adalah pusat kegiatan para pengikur aliran Khalwatiyah.
Bersambung..........