Rabu, 26 November 2008

Ma' Hane

Namanya Ma'Hane. Perawakannya kecil dan gurat-gurat ketuaa sudah muncul pada tubuhnya di sana-sini. urat-urat di kedua tangannya sudah tak kuasa lagi untuk tidak menampakkan diri. giginya sudah mulai menguning termakan usia dan kelihatan sangat rapuh. Badannya tidak lagi tegap kala berdiri menceritakan usia yang sudah begitu banyak dilaluiya. Tapi, semangatnya masih sangat muda terpancardi sepasang matanya yang bersinar cerah.
Dia sedang mengumpulkan pasir di selokan samping teras mesjid saat aku dan Ima menghampirinya. Pasir yangbercampur tanah itu dia kumpulkan untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam karung menggunakan sekop dan disapu dengan kedua tangannya. "Assalamu alaikum, Bu", sapaku padanya saat jarak kami sudah sangat dekat. Dia hanya menengadah sejenak melihat kami tanpa mengucapkan sepatah kata pun lalu mlanjutkan kembali pekerjaannya. Kali ini dia menggunakan kedua tangannya untuk mengumpulkan pasir-pasir itu. Aku dan Ima hanya bisa saling memandang. "Assalamu alaikum, aga tajama Bu?" Tanyaku lagi, kali ini lebih dekat dengan bahasa bugis dan juga bahasa tubuh yang seakan ingin menjabat tangannya. Tapi sejurus kemudian, tindakan spontanku justru jongkok di sampingnya. "Kegako pole?" Tiba-tiba dia bertanya. " Mak-kkn nga kunyyede Bu", " Duampulengga rencanana". "O,....." Dia menjawab seakan mengerti. "Lokkano pale paccingi mesiji e!" marota ladde". "O iye Bu" jawabku. Aku dan Ima saling menatap dan segera merespon kata-katanya dengan bergegas memasuki mesjid itu.
Mesjid itu cukup besar, dan dari berita yang beredar di masyarakat, mesjid itu adalah pusat kegiatan para pengikur aliran Khalwatiyah.

Bersambung..........

Pate'ne dan Khalwatiyah

Aku KKN di Kecamatan Marusu, Desa Temmappadua Kabupaten Maros, tapi daerah ini lebih dikenal dengan nama Pate'ne. Daerah ini sangat mudah dijangkau, hanya sekitar 2 kilometer dari jalan tol seksi 4. Perjalanan menuju Pate'ne bisa ditempuh dengan ojek atau angkutan umum yang lebih dikenal dengan pete-pete. Bila naik ojek, harus merogoh kocek lima ribu rupiah, tapi bila naik pete-pete bisa lebih murah lagi sekitar tiga ribu rupiah saja.
Menyebut nama Pate'ne di luar, selalu diasosiasikan dengan khalwatiyah. nama sebuah aliran yang konon dianut oleh hampir semua masyarakat di desa ini dan juga masyarakat lain yang tersebar di wilayah luar Makassar. Mereka, para pengikut aliran ini, terbiasa berkumpul setiap tahun khususnya bulan maulid untuk merayakan hari besar dan bersilaturahmi di Pate'ne guna menyiarahi makam seorang tokoh khalwatiyah yang dianggap sebagai pelopor dan pembawa ajaran ini.

Sabtu, 22 November 2008

Rompi Merah

Saat ini datang juga. Saat yang sudah lama kunantikan,dan ingin segera kujalani. Menjalani KKN bagiku ibarat melewati sebuah pagar tinggi menuju sebuah tempat yang menjanjikan banyak harapan. Hem,....mungkin yang kumaksud adalah sarjana. Bila gelar sudah di tangan, akan banyak hal yang bisa kulakukan, kucoba dan kupelajari. tentu semuanya hadir beriringan bersama tantangan baru untuk bersosialisasi, beraplikasi, dan berpenghasilan lebih. masa seperti itu sangat menyenangkan bila dibayangkan.
Sekarang aku betul-betul sudah memakai rompi merah Unhas yang begitu indah kulihat dulu ,kala masih SMA, melekat pada tubuh para mahasiswa yang KKN di kampungku.

Senin, 10 November 2008

cerita di pangkep

Kemarin ke pangkep, sebuah daerah yang terkenal dengan makanan khasnya yaitu ikan bakar dan sup saudara, memenuhi undangan sebuah organisasi kepemudaan di sana. Aku datang bersama empat orang teman lainnya dari makassar sebagai pembahas soal try out di acara yang diadakan di kantor bupati. hujan yang ragu-ragu menyertai perjalanan kami dari makassar ke sana. kadang-kadang deras kadang gerimis saja dan bahkan sesekali matahari berani menunjukkan diri. perjalanan kali ini terasa melelahkan bagiku walaupun jarak Makassar-Pangkep hanya ditempuh sekitar 95 menit. Mungkin ini pengaruh masuk angin, begitu pikirku,. Aku lemah, gelisah, merasa tak nyaman,kelelahan dan berujung tragis. Itu terjadi saat kami hampir memasuki Kota Maros. Aku mabuk perjalan dan memuntahkan semua isi perut pagi itu. Tentu ini bersejarah karena baru kali ini aku mengalami mabuk perjalanan. Tapi setelah kejadian bersejarah itu aku justru merasa lebih baikan dan segar.
Pukul sepuluh lewat 15 menit kami sampai di kantor yang punya halaman sangat luas itu. Tamannya sangat terawat dan cukup hijau, sangat kontras dengan pemandangan di kantor tetangga yang gersang dan tidak terawat. tidak ada aktivitas perkantoran yang tampak begitu pula dengan para pegawai kantor karena maklum kemarin itu hari minggu. Hanya ada dua orang petugas keamanan yang berjaga di lobi kantor. Tapi kantor itu terlihat sangat hidup karena ada begitu banyak orang yang berkeliaran di sana-sini, khususnya di lantai dua.
rata-rata mereka itu remaja, tampaknya siswa SMA yang ikut kegiatan try out. Kantor itu sangat besar dan luas tapi sangat tidak terawat. Aku tidak habis pikir bagaimana bisa kantor yang menjadi kebanggaan seluruh orang pangkep ini tidak memiliki kamar kecil yang memadai, kondisi WC sangat memprihatinkan bila harus menghaluskan kata menjijikkan. Itu belum termasuk lantai dan langit-langit yang mengingatkan konsep sebuah rumah tanpa penghuni, atau dihuni oleh orang malas. Ah.... aku betul-betul tidak habis pikir sampai acara try outnya berlangsung dan mataku kembali tertumbuk pada gorden kantor yang sepertinya sudah bertahun-tahun tidak diganti. Tapi satu hal yang membanggakan karena ternyata para siswa di sana sangat antusias dengan acara ini.

Senin, 03 November 2008

Pertemuan

Semua orang yang kita temui, entah itu di jalan, di kampus, di organisasi atau mungkin di tempat kerja, selalu hadir bersama ceritanya masing-masing yang tanpa pernah disangka bisa saja terkait erat dengan diri kita. Ada yang bilang bahwa kesan pertama selalu menentukan keberlanjutan kisah yang akan kita jalani, memastikan apakah jalinan yang terajut itu akan berlangsung erat atau justru tidak bisa direkatkan sama sekali. Tapi aku tidak pernah sepakat dengan itu, setidaknya untuk saat ini. Pertemuan pertama selalu terjadi dengan kesemuan dan kepura-puraan. Selalu ada hal yang ingin ditonjolkan dan selalu ada hal juga yang mesti ditutupi. Yang menentukan kemudian bagiku justru kuasa waktu. Hitungan menit dan detik yang mengiringi suatu cerita yang sebenarnya. Bisa tentang kebaikan, ketulusan, keceriaan, kebohongan, atau kelicikan, dan ke...ke yang lain.

Sabtu, 01 November 2008

lagi-lagi ketakutan

Ketakutan itu berkunjung lagi. Aku belum bisa berubah, belum bisa melihat sesuatu dengan rasional. Aku benci ketakutanku yang selalu ingin memenjarakan. Ah.... betapa susahnya melawan diri sendiri. Aku ingin menutup pintu untuk kegelisahan dan ketidakpercayaan yang selalu menghantuiku.

Kamis, 30 Oktober 2008

harus sekarang

Perlu energi besar tampaknya yang harus kupersiapkan untuk menghadapi hari-hari ke depan. Ada banyak agenda yang harus segera dituntaskan dan tidak boleh ditunda lagi. Waktu sudah semakin banyak yang tercecer tanpa bisa untuk dikumpulkan lagi. Terlalu banyak dan terlalu lelah tapi sudah terlambat untuk mengeluh sekarang. Tapi baiklah, aku seharusnya tidak membuang waktu lagi untuk terus merencanakan dan terus berkutat di situ. Seperti instrumental yang mengalun pelan dan membuai seperti obat bius, aku menjalani rutinitas tanpa tahu kapan harus berhenti. Terlalu melenakan dan sangat susah untuk keluar menjemput kenyataan yang jauh berbeda. Cerita harus terus dilanjutkan tapi tidak lagi berputar-putar pada alur yang sama. Para menikmat cerita pun dijamin akan bosan untuk terus melihat alur dan konflik yang sama. Aku ingin segera beranjak dari cerita ini.

Senin, 27 Oktober 2008

Pahlawan dan Penghianat

Konsep tentang "pahlawan" dan "penghianat" dilekatkan pada "siapa" tergantung pada rezim yang berkuasa. Ini kalimat yang kudapat dari sebuah novel jadul yang ditulis Sidney Sheldon yang judulnya sudah tidak kuingat lagi. Kalimat ini mengesankan dan aku membiarkan diriku sepakat sepenuhnya. Kuasa memang menentukan segalanya, baik, benar, dan buruk seperti menyatu dan bebas ditafsirkan sesuai kepentingan yang dibawa. Semuanya berbaur dan terus melangkahi zaman untuk kemudian di suatu masa akan berubah tergantung siapa lagi yang berkuasa. Dan hari ini kalimat itu kudengar langsung dari mulut seorang budayawan yang sejak di awal kuliah sudah kudengar namanya dan kukenali wajahnya. Tentu sangat menggelikan kalau aku menyimpulkan bahwa dia juga membaca Sidney Sheldon, dan memang aku tidak berpikiran begitu. Dia bercerita tentang Hasanuddin dan Arung Palakka. Dua orang yang bila disebutkan namanya maka yang terbayang adalah dua suku besar di Sulawesi Selatan. Dia berpendapat tentang keduanya yang mungkin saja bukan pahlawan bagi bangsa ini. Keduanya bisa saja adalah penghianat atau hanya salah satu dari keduanya yang menjadi pahlawan dan yang lainnya otomatis menjadi penghianat tergantung konstruksi pikiran sang pemilik kuasa saat ini. Entahlah, aku juga tidak ingin segera memastikan. Aku bukan rakyat yang hidup di zaman mereka walau aku juga tidak pungkiri menjadi bagian dari suku salah satu dari mereka. Sekarang aku tidak ingin turut dalam perdebatan itu, tapi mungkin suatu saat aku juga akan menjadi pembela salah satu dari mereka, siapa tahu ada keberuntungan dari pengakuan itu. he...he..Lagi-lagi kepentingan, tapi aku sepakat dengan budayawan itu untuk tidak menyanjung berbihan sang pahlawan, dan mencerca berlebihan sang penghianat.